9.10.2009

Lord Of The Rings VS Baratayudha ( seri II )

Baratayuda adalah perang besar di Kurukshetra antara Pandawa melawan Kurawa. Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha, yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri.Kisah Kakawin Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Kurawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Suatu hari Raja Pandu berburu di hutan,secara tidak sengaja ia memanah rusa yang merupakan jelmaan pertapa sakti dan istrinya. Karena kesalahan itulah sang raja mendapatkan kutukan akan menemui ajal bila ia bersenggama dengan istrinya,karena memang rusa tersebut sedang melakukan ritual persenggamaan saat terpanah oleh sang raja.Namun pada akhirnya hasrat untuk melakukan persenggamaan dengan sang istripun tak mampu tertahan lagi hingga Raja Pandu meninggal dunia.


Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Kurawa. Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu.

Upaya yang di lakukan oleh kurawa pun terbilang keji, mulai dari usaha pembunuhan Pandawa dengan membakar istana sagala-gala.Saat terjadi kebakaran tersebut,ada satu aksi luar biasa yang di lakukan oleh Bima,putra kedua dewi kunti,Sosoknya yang tinggi dan kuat menggendong ibu serta keempat saudaranya keluar dari kobaran api.
Kemudian taktik perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu. Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Kurawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

Kresna raja Kerajaan Dwarawati yang menjadi penasihat pihak Pandawa berhasil mencuri kitab tersebut dengan menyamar sebagai seekor lebah putih. Namun, sebagai seorang ksatria, ia tidak mengambilnya begitu saja. Batara Guru merelakan kitab Jitabsara menjadi milik Kresna, asalkan ia selalu menjaga kerahasiaan isinya, serta menukarnya dengan Kembang wijayakusuma, yaitu bunga pusaka milik Kresna yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati. Kresna menyanggupinya. Sejak saat itu Kresna kehilangan kemampuannya untuk menghidupkan orang mati, namun ia mengetahui dengan pasti siapa saja yang akan gugur di dalam Baratayuda sesuai isi Jitabsara yang telah ditakdirkan dewata.

Dalam pihak Pandawa yang bertugas mengatur siasat peperangan adalah Kresna. Ia yang berhak memutuskan siapa yang harus maju, dan siapa yang harus mundur. sementara itu di pihak Kurawa semuanya diatur oleh Duryudana sendiri, yang seringkali dilakukannya tanpa perhitungan cermat.Duryudana adalah sulung dari kurawa.

Berikut adalah tokoh-tokoh pandawa.

  1. PUNTADEWA.
    adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Baratayuda Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya.
    Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.
  2. BRATASENA.
    Setelah dewasa bernama Werkudara. adalah ksatria Jodipati dan Tunggulpamenang. Pernah menjadi raja di Gilingwesi, dengan gelar Prabu Tuguwasesa. Nama lain yang dipakai adalah: Bima, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma Waligita. Sifatnya: jujur, tidak sombong, jiwanya suci, sangat patuh kepada guru-gurunya (terutama dengan Dewa Ruci), mencintai ibunya serta menjaga saudara-saudaranya. Bila berperang semboyannya adalah menang, bila kalah berarti mati. Bratasena adalah merupakan suri tauladan kehidupan dengan sifat yang jujur dan jiwanya suci.
    Pusakanya adalah: Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kiri sangat ampuh, sangat kuat dan tajam. Selain kuku pancanaka Werkudara juga mempunyai kekuatan angin (lima kekuatan angin), serta dapat membongkar gunung. Mempunyai dua permaisuri yaitu: Arimbi yang merupakan golongan kaum buto/raksasa dan Nagagini putrid dari naga antaboga rajanya para ular. Dengan Arimbi mendapatkan putra bernama Gatotkaca, yang dapat terbang dan sesungguhnya memiliki sayap namun pada ilustrasi pewayangan hanya di wujudkan dalam bentuk ukiran sayap di punggungnya seolah seperti pakaian,gatot kaca juga memiliki rompi onto kusumo yang membuatnya kebal dari senjata tajam. Dari perkawinannya dengan Nagagini memperoleh putra bernama AntaReja yang dapat masuk ke dalam bumi antareja pun di bekali sebuah rompi yang terbuat dari kulit mati kakeknya,yang mana hanya antarejalah yang boleh memakainya.Sebenarnya ada satu lagi istri Bima yang tidak di jadikan permaisurinya,Dia adalah dewi urang ayu yag merupakan putri dari kerajaan ikan,Bima bertemu dan menikah denganya saat bertapa,dengan dewi urangayu di berikan seorang putra bernama antasena yang mampu menyelam ke dalam samodra karena meiliki ingsang, Suatu ketika ketiga anak bima bertemu dalam sebuah misi,tanpa mengenal satu sama lain mereka terlibat perkelahian,karena sama-sama sakti,tidak ada yang mampu melerai perkelahian mereka,hingga datanglah sang Bima yang pada akhirnya berhasil melerai perkelahian itu. Dari kejadian tersebutlah gatotkaca,antareja dan antasena mengetahui bahwa mereka adalah saudara seayah,bukanya tambah akur mereka malah saling ejek dengan menyebut gatotkaca adalah anak genderuwo/raksasa,atareja adalah anak ular dan antasena adalah anak ikan. Kejadian saling ejek tersebut membuat Bima geram dan menampar mereka satu per satu.
  3. ARJUNA.
    adalah ksatria Madukara, juga menjadi raja di Tinjomoya. Nama lain yang dipakai sangat banyak, antara lain: Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana, Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya. Sifatnya: Suka menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan kesenian.
    Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa, ia adalah titisan Dewa Wisnu. Istri Arjuna banyak sekali, ia dijuluki lelananging jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Permaisurinya di arcapada adalah Wara Sumbadra dan Wara Srikandi. Selain itu masih banyak lagi istri-istrinya antara lain: Rarasati, Sulastri, Gandawati, Ulupi, Maeswara, dsbnya.
    Permaisuri di kahyangan antara lain Dewi Supraba, Dewi Dersanala bidadari di Tinjomaya. Arjuna berjiwa ksatria, berjiwa luhur, suka menolong, serta kesayangan para Dewa. Tetapi ada kelemahan yang tidak boleh diteladani dan ditrapkan pada jaman sekarang yaitu beristri banyak.Meskipun begitu Arjuna memiliki satu kelebihan di balik kelemahanya ini,yaitu dia tak akan tergoda oleh wanita bila sedang bertapa.Meskipun di katakana arjuna mudah tergoda oleh wanita tapi tidak bila ia sedang bertapa.
  4. NAKULA.
    adalah anak ke empat Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Madrim yang lahir kembar dengan Sadewa. Ayah dan ibunya (Madrim) meninggal pada waktu si kembar masih kecil, oleh karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak membedakan antara satu dengan lainnya.
    Setelah perang Baratayuda Nakula dan Sadewa menjadi raja di Mandraka dengan Sadewa. Nama lain adalah Raden Pinten. Nakula adalah ahli dalam bidang Pertanian. Pada waktu perang Baratayuda, Nakula dan Sadewa yang bisa meluluhkan hati Prabu Salya (dari pi hak Kurawa). Sebab Prabu Salya adalah saudara Dewi Madrim, selain itu sebenarnya dalam hatinya memihak pada kebenaran yaitu Pandawa. Akhirnya Prabu Salya memberitahukan kepada Nakula dan Sadewa bahwa yang bisa mengalahkannya hanyalah Puntadewa, karena Puntadewa berdarah putih.
  5. SADEWA.
    adalah anak kelima Prabu Pandu dengan Madrim, dilahirkan kembar dengan Nakula. Setelah perang Baratayuda Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka. Nama kecil Sadewa adalah raden Tangsen. Sadewa adalah ahli dalam bidang peternakan.
    Ia kawin dengan Endang Sadarmi, anak Bagawan Tembang petra dari Pertapaan Parangalas, dan mempunyai putra bernama Sabekti.

Tokoh-tokoh lain dalam perang baratayuda adalah Dewa wisnu rajanya para dewa yang menitis pada arjuna,Garuda sosok setengah manusia setengah burung rajawali yang menjadi tunggangan wisnu,Prabu baladewa yang tak kenal ampun tapi suka menolong,wisanggeni,parikesit dan lain sebagainya.

Kemudian Patih harya sengkuni,di gambarkan sebagai seorang yang munafik,penjilat dan suka mengadu domba,dialah yang membuat pandawa di usir dari istana,dalam perang,patih sengkuni terbunuh oleh kuku sakti milik bima,tidak hanya itu,bima juga menguliti sengkuni untuk melampiaskan kekesalanya.


Ada pula hanoman,kera putih yang hidup sejak zaman mahabarata,putra dari dewi andini,keponakan dari subali dan sugriwo,ia menjadi tokoh yang sekaligus ikut andil dalam perang,juga lurah semar yang meskipun dari golongan rakyat jelata tapi memiliki kesaktian yang besar,bahkan suatu ketika,dewa wisnu yang seorang maharajanya para dewa,meminta bantuan semar saat kahyangan di obrak-abrik garuda.

Ilustrasi dalam perang :



Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma (Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja kerajaan Mandaraka yang mendukung Kurawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti "gunung samudra."

Balatentara Kurawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada (pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka tewas seketika.

Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Kurawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.
Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Kurawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang).
Dalam pertempuran ini dua anggota Kurawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Kurawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi isma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut, Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi.
Dalam babak ini juga diadakan korban demi syarat kemenangan pihak yang sedang berperang. Resi Ijrapa dan anaknya Rawan dengan sukarela menyediakan diri sebagai korban (Tawur) bagi Pandawa. Keduanya pernah ditolong Bima dari bahaya raksasa. Selain itu satria Pandawa terkemuka, Antareja yang merupakan putra Bima juga bersedia menjadi tawur dengan cara menjilat bekas kakinya hingga tewas. Sementara itu Sagotra, hartawan yang berhutang budi pada Arjuna ingin menjadi korban bagi Pandawa. Namun karena tidak tahu arah, ia bertemu dengan Kurawa. Oleh tipu muslihat Kurawa, ia akan dipertemukan dengan Arjuna, namun dibawa ke Astina. Sagotra dipaksa menjadi tawur bagi Kurawa, namun menolak mentah-mentah. Akhirnya, Dursasana, salah satu anggota Kurawa membunuhnya dengan alasan sebagai tawur pihak Kurawa.
Perang barata yudha pun berakhir dengan kemenangan di fihak pandawa.



2 komentar temen:

cholid __G (cholid zufar) mengatakan...

iya lah lawan aja cuma LOTR kalau suruh naik gunung himalaya lima-lima nya tewas cuma sisa 1

Anonim mengatakan...

lha gambarmu sendiri banyak yang comot di wikipedia....trus gimana dong?